Ketika Maul Ibrahim, Adam Adenan, dan Ildo Hasman memesan waktu di studio latihan pada 2019, mereka hanya ingin memainkan lagu-lagu alternative rock favorit mereka untuk melepas penat setelah seharian bekerja di ibu kota, sudah lama meninggalkan kehidupan skena indie Bandung dan Jakarta di usia dua puluhan demi karier korporat dan kehidupan rumah tangga.
Namun justru saat trio yang baru terbentuk ini mengira mereka sudah selesai dengan dunia musik, mereka menarik diri kembali dengan menciptakan riff dan ide lagu orisinal, dan lahirlah Perunggu. Single debut 2019 beserta EP pengiringnya memperkenalkan sound khas band ini: riff gitar Maul, vokal yang melayang tinggi, dan lirik yang jujur dari hati, ditopang fondasi bass-dan-drum Adam dan Ildo serta harmoni vokal latar.
Album debut penuh band ini hadir saat dunia mulai bangkit dari pandemi, dengan Perunggu yang tetap menjalani pekerjaan harian mereka sambil tampil di hadapan penonton yang kian membesar dan ikut bernyanyi bersama dalam lagu-lagu anthem mereka tentang keayahan (), kehilangan (), dan spiritualitas ().
Dan kini album kedua mereka mempertahankan kekuatan Perunggu sekaligus memperluas palet sonik mereka, dengan nuansa yang lebih keras () maupun lebih lembut () dalam lagu-lagu yang mengangkat tema seperti duka dan detoks media sosial. Dengan single dan yang sudah terbukti menjadi favorit di atas panggung dan jadwal manggung band yang semakin padat, sepertinya sudah waktunya bagi Perunggu untuk benar-benar melepas pekerjaan harian mereka.
- 📝: Hasief Ardiasyah