Pantjoran Tea House: Sensasi Minum Teh Sekaligus Berwisata Budaya

0
38
Menu teh di Pantjoran Tea House via http://pantjoranteahouse.com/

Jakarta: Pernahkah Anda membayangkan minum teh sambil berwisata sejarah budaya China? Hmm jika Anda penasaran dengan filosofi dan sejarah teh itu sendiri, Anda juga bisa mengetahuinya di tempat ini.

Yaps, namanya Pantjoran Tea House. Kedai teh yang terletak di jalan Pitu Besar Selatan, tepatnya berseberangan dengan Plaza Glodog. Gedung kedai ini dinominasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai World Heritage Site, mewakili Indonesia di UNESCO. Revitalisasi Apotek Cung Hwa ini bukan hanya menghidupkan kembali gedungnya, namun juga fungsinya bagi masyarakat yaitu menjadi tempat minum teh.

Mengapa kedai teh, Karena teh mempunyai kaitan yang kuat dengan Kawasan Kota Tua Jakarta.

Gedung bertingkat dan memiliki jendela-jendela tinggi ini adalah gedung tua, yang tentunya menyimpan sejuta cerita. Dulunya, gedung ini adalah sebuah apotek chung hwa yang berdiri sejak tahun 1928 dan merupakan apotek tertua di Jakarta.

Nuansa oriental yang diberi kesan indsustrial sangat terasa dari ukiran pintu, jendela, lantai bercorak dan bohlam edison. Di lantai dua, partisi kayu berornamen khas China, dan lantai keramik bermotif terakota yang dilengkapi furnitur berupa kursi-kursi thonet khas kopitiam,  dapat menampung pengunjung hingga 80 orang.

Foto via myfunfoodiary.com

Pada tahun 1663 silam, di daerah Pancoran ketika masih bernama Batavia tinggal seorang Kapitein warga Tionghoa ketiga, yang bernama Gan Djie. Ialah salah satu orang yang memulai tradisi minum teh di daerah Pancoran.

Gan Djie dan istrinya selalu meletakkan delapan teko teh untuk pedagang keliling dan orang-orang yang kelelahan, serta hendak menumpang berteduh. Delapan teko inilah yang menjadi asal mula nama daerah Patekoan tersebut.

Teh di kawasan ini juga sudah ada sejak tahun 1684, di mana pertama kali bibit teh dibawa dari Jepang oleh Andreas Cleyer, botanis yang bekerja untuk VOC. Tidak hanya berfungsi sebagai penghilang rasa dahaga pada abad ke-18 ketika terjadi wabah disentri yang menyerang warga Belanda dan Pribumi, minuman teh berhasil membunuh kuman-kuman disentri dan mencegah tersebarnya wabah itu di daerah Pancoran.

Di sini Anda juga bisa mencoba langsung bagaimana menyajikan teh layaknya orang-orang China di zaman dahulu.

Selain menyajikan berbagai teh dan penganan pendamping, Pantjoran Tea House juga sering menyelengarakan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan budaya dan teh, seperti workshop upacara teh ala China dan Jepang. (Marini)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here