Perjalanan Menantang Menuju Ujung Waduk Wadaslintang

0
76 views

Kemankita.id – Siapa yang tidak mengenal objek wisata Waduk Wadaslintang? Waduk yang dibangun pada masa orde baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto tahun 1982 ini sangat terkenal hingga hampir setiap masyarakat tahu waduk ini. Lokasi yang menjadi destinasi utama adalah bagian bendungannya. Bendungan waduk Wadaslintang mempunyai ketinggian 116 meter dan lebar 10 meter dengan panjang sekitar 650 meter. Selain menjadi objek wisata, waduk Wadaslintang juga menjadi salah satu tempat favorit untuk memancing.

image

Beberapa waktu lalu saat melewati bendungan waduk Wadaslintang, terlintas dipikiran saya tentang ujung waduk ini, dalam pikiran bertanya-tanya bagaimana sih ujungnya, ada apa saja di ujung waduk sana. Setelah melihat peta, saya memutuskan untuk menuju sebuah desa bernama Desa Kemejing, sebuah desa yang berbatasan langsung dengan desa Wadasmalang, Kabupaten Kebumen.

Perjalanan dimulai dari Kebumen menuju bendungan melalui Kecamatan Alian, sampai di waduk saya ambil arah kanan menuju desa Kaligowong yang terletak di sisi barat waduk. Sebenarnya untuk menuju Desa Kemejing bisa dilalui melalui jalur air yaitu dengan perahu kecil yang biasa dipakai warga, namun saya memilih menggunakan jalur darat dengan harapan jika ada sesuatu yang menarik selama perjalanan saya bisa mengeksplornya lebih jauh. Perjalanan menuju Desa Kemejing tidak membosankan karena selama perjalanan pemandangan yang disuguhkan selalu membuatku penasaran.

image

20 menit perjalanan ditempuh, saya sampai di balai desa Kaligowong dan langsung melanjutkan perjalanan. Dari balai desa Kaligowong, selanjutnya kita ambil arah kanan dengan melewati jalan setapak yang sudah di cor. Dalam hati sudah senang karena yakin perjalanan menuju ujung waduk akan mudah, namun baru beberapa ratus meter perjalanan yang sudah saya bayangkan akan mudah pupus karena jalan setelah di cor adalah jalan tanah biasa yang tidak rata dan beberapa meter dari itu perjalanan terasa lebih sulit lagi karena jalanan yang berkelok, naik turun dan tidak rata kerana susunan batu wadas yang sudah muncul dipermukaan.

image

Perjalanan ini bagiku yang notabene adalah warga pesisir selatan pulau Jawa terasa begitu menantang, namun tetap mengasyikan. Melewati jalanan yang berkelok layaknya di jalanan perbukitan lain bagiku sudah cukup menghibur. Perjalanan ini terasa lebih membuat adrenalin berpacu karena selain tanjakan dengan kemiringan yang terlalu ditambah dengan jalan yang tidak rata bahkan kalau di tempatku bisa dianggap (maaf) belum layak digunakan. Di beberapa titik jalan memang sudah di cor, namun masih lebih banyak titik yang belum di cor sehingga pada musim hujan kemungkinan jalan ini akan sangat sulit dilalui dengan kendaraan biasa.

image

Setelah melewati jalanan yang cukup menguras banyak tenaga, akhirnya saya sampai di rumah salah satu kenalan saya. Rumahnya terasa khas pegunungan yaitu rumah jawa dengan 4 saka guru dan lebih dari 70% bangunannya adalah kayu termasuk dindingnya. Berada di dalam rumah cukup. Rumah temanku sudah dibuat hampir permanen, perlu diketahui di beberapa daerah banyak rumah hunian di daerah pegunungan biasanya dibuat tidak permanen karena jika terjadi tanah longsor atau pun ingin memindah rumah, pemilik rumah tinggal menganggkat rangka bangunan secara bergotong-royong.

Baca Juga  Sensasi Berwisata ke Pulau Terkecil di Dunia

 

Istirahat cukup dan sholat Dhuhur sudah ditunaikan, saya kembali melanjutkan perjalanan ke waduk. Perjalanan ke waduk dilalui dengan berjalan kaki dengan melewati jalanan setapak, persawahan dan tebing yang cukup curam. Jika teman-teman pernah mendaki gunung, kurang lebih sama seperti itu. Jalan yang curam sudah dilalui hingga akhirnya sampai juga di pinggir waduk. Pinggiran waduk oleh masyarakat ditanami beberapa tanaman palawija dan juga terlihat beberapa kapal yang sedang tidak digunakan oleh nelayan untuk mencari ikan maupun untuk keperluan lain.

Di sini saya menikmati ketenangan yang tidak didapat jika hanya melihat waduk dari bendungannya saja. Suasana yang tenang dengan angin yang sepoi membuat air bersiluet matahari sedikit bergelombang. Airnya cukup jernih hingga terlihat ikan-ikan kecil berlari berkejaran seolah mengajak saya untuk ikut terjun ke air melepas penat selepas perjalanan tadi. Perahu warga yang sedang menjala ikan menambah suasana menjadi lebih menggembirakan. Beberapa warga sedang sibuk membersihkan gulma di sekitar tanaman palawija yang sudah ditanam dan beberapa lainnya bersiap-siap untuk menjala ikan.

 

Temanku yang sudah sering mencari ikan di waduk pun langsung melepas pakaiannya dan langsung terjun bereng menikmati kesejukan air di ujung waduk Wadaslintang ini. Sesekali meraba bebatuan di pinggir waduk untuk mencari ikan Betutu. Ikan betutu hampir mirip dengan Gabus, namun banyak orang yang menganggap ikan Betutu ini mirip dengan katak. Di waduk ini ikan Betutu bersembunyi di balik bebatuan yang ada di pinggir-pinggir waduk. Ikan Betutu kalau di daerah lain ada yang menyebutnya dengan ikan Boso, tapi ikan Betutu di waduk ini bisa berukuran jauh lebih besar dari pada ikan Betutu yang berada di sungai-sungai.

Setelah menikmati keindahan dan kesejukan ujung waduk ini saya memutuskan untuk pulang, namun di tengah perjalanan terlihat seorang nelayan di seberang yang mendapatkan ikan lumayan banyak dan itu membuat saya berpikir untuk membeli ikan sebagai oleh-oleh. Saya bingung karena perahu nelayan tersebut berada di seberang waduk, dan terlintas untuk menggunakan perahu yang sedang bersandar di pinggir waduk. Temanku langung mengajak saya untuk segera naik ke perahu milik salah satu warga untuk menyeberang. Menaiki perahu berukuran kecil ini membuatku berdebar dan dalam hati selalu bertanya “Kuat ga ya?” namun setelah naik ke perahu ini dan dayung mulai dikayuhkan, wahhh luar biasa mengasyikan. Alunan air yang sangat lembut dipadu siluet matahari dinikmati di atas perahu kecil di tengah waduk.

Baca Juga  Perjalanan Menikmati Keindahan Bukit Kasih, Kamu Harus Coba!

image

Nelayan yang sudah mendaratkan perahunya membersihkan jaring yang sudah digunakan. Terlihat ikan Mujair dan Nila yang lumayan banyak dengan beberap ikan kecilnya. Membeli ikan langsung di nelayannya murah, hanya dengan membayar Rp20.000 nelayan tersebut memberi saya 11 ekor ikan mujair dan Nila yang lumayan besar.

Setelah mendapatkan ikan saya bergegas kembali ke rumah teman saya karena matahari sudah semakin tenggelam. Rasa lelah perjalanan terbayar lunas dengan keindahan, ketenangan, dan petualangan yang didapatkan. Alangkah bahagianya jika tempat ini tetap terjaga keindahannya tanpa dirusak oleh tangan-tangan jahil yang merusak tanpa mengindahkan apa yang akan ditinggalkan untuk anak cucu kita nanti. (Jamal)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here