Sintang, Pesona Alam di Pelosok Kalimantan

0
36 views

Kemanakita.id – Berbicara mengenai Sintang, sebuah kota di pelosok Kalimantan Barat, dengan jarak tempuh sekitar delapan jam dari Kota Pontianak. Kami menyusuri jalanan berdebu yang terkadang hilang tertelan kerikil usang. Jalanan yang masih syarat dengan banyaknya batu-batu besar di sepanjang perjalanan, sukses membuat bus yang kami tumpangi bergoyang.

Awalnya penulis berangkat dari Kota Pontianak memakai bus malam, agar Subuh sudah menyapa apabila kami sampai di tujuan. Benar saja, pukul 7 malam kami berangkat, sesampainya di Sintang sudah pukul 4 dini hari. Kontan, kawan baik langsung menjemput di tempat pemberhentian.

Sintang, menawarkan beragam kuliner yang tak akan habis dirapal. Sebut saja dari menu masakan Padang hingga Makassar. Sebagai penikmat masakan ‘aman’, penulis akhirnya memilih masakan Jawa, ya paling tidak perut ini tidak akan merepotkan selama perjalanan.
Puas menyantap sarapan, kami berencana untuk mendaki Bukit Kelam, salah satu ikon Kota Sintang yang santer untuk didatangi wisatawan. Sebagai pendatang, penulis ingin sekali melihat betapa elok nama Bukit Kelam. Tingginya yang menjulang, bahkan terkadang puncaknya tertutup awan, membuatnya semakin berkuasa.

Mobil mulai berbelok ke kanan, menuju Jalan Kelam. Aspal di sini bagus, pemerintah sudah memberikan perhatian untuk objek wisata yang satu ini rupanya. Ya meskipun ruas jalan hanya cukup untuk satu truk, namun sudah sangat membantu perekonomian masyarakat di wilayah ini. Terlebih apabila dihitung dari jarak dan waktu tempuh, Jalan Kelam sudah lumayan jauh dari pusat kota.

90 menit perjalanan kami menuju Bukit Kelam. Pemandangan yang disuguhkan sangat menarik. Bentangan kebun sawit yang tengah berkembang, dengan bumbu-bumbu tumbuhan paku yang merupakan ciri khas di Kalimantan Barat, belum lagi menengok Bukit Kelam yang sebentar lagi kami sambangi. Salah satu teman saya hingga tak henti-hentinya mengabadikan potret kecantikan Bukit Kelam di kameranya.



Setelah membayar retribusi sebesar sepuluh ribu, kami berenam akhirnya bisa check in di Bukit Kelam. Dari pitu masuk, kami sudah disuguhi dengan jalanan setapak yang menanjak. Namun jangan takut, di lokasi wisata sudah tersedia trek sehingga memudahkan bagi pendaki pemula, seperti saya.

Awal pendakian, lebih enak jika penulis menyebutnya awal perjalanan karena belum terlalu mendaki, wisatawan akan disibukkan dengan melihat taman bermain anak-anak, kolam ikan, dan beberapa jenis pohon yang jarang ditemui. Setelah melewati zona nyaman, lalu trek akan sedikit menanjak.

Penulis menyarankan untuk membawa perbekalan yang cukup, terlebih untuk air minum. Di lokasi memang terdapat penjaja makanan namun demi keselamatan perut dan dompet, tidak ada salahnya menyiapkan bekal sebelum berangkat ke lokasi wisata.

Setelah berjalan beberapa tanjakan, terdengar gemericik air di kejauhan. Layaknya sebuah undangan, kami seperti berlari ketika jalan setapak semakin menanjak. Benar saja, curahan air dari atas semakin mendramatisir suasana. Airnya yang super bening dan sangat sejuk, membuat kami tak berhenti untuk berdecak kagum dengan keagungan dari Sang Mahaindah yang menciptakan alamNya hingga sampai ke titik paling detail.

Alur airnya yang mengalir pelan, menambah syahdu perjalanan kami untuk semakin bersyukur akan ciptaanNya. Sebelum melanjutkan alirnya, air-air ini tertampung di kolam buatan. Airnya yang sangat bening, membuat dasar kolam jelas terlihat. Namun sepanjang kami bermain-main air, tak seekor ikanpun yang berenang melintas.

Lalu kami melanjutkan pendakian, minimnya petunjuk arah, membuat kami sedikit kebingungan. Medan yang kami lalui berikutnya semakin terjal. Kemiringannya mencapai sudut 30 derajat. Entah berapa kali penulis minta waktu untuk beristirahat untuk sekadar menenggak bekal air minum maupun meluruskan kaki yang mulai pegal.

Hingga dalam beberapa belokan dan tanjakan, kami menemui sebuah tangga besi warna biru. Medan yang tak bisa untuk didaki, mungkin menjadi salah satu alasan tangga mungil ini berdiri memeluk seonggok batu besar. Tangga ini hanya cukup untuk menmapung satu orang, jadi apabila ingin menggunakannya, para pendaki harus mengantre agar tidak melebihi muatan.

Sesampainya di atas tangga, indahnya pemandangan mulai terlihat. Seakan langsung terlupa dengan napas yang sedari tadi ngos-ngosan. Dengan sedikit dorongan semangat untuk sedikit lebih naik, maka akhirnya kami sampai di sebuah titik yang dirasa sangat pas untuk menikmati indahnya Kota Sintang dari atas. Entah berapa meter kami mendaki, mungkin masih dihitung rendah, karena belum juga sampai di Pos 1, namun kebahagiaan ini tak terkira. Lebay sih memang, namun untuk seorang gadis dari Jawa, dan sampai di pelosok Kalimantan Barat itu sungguh sebauh pencapaian yang entah apa istilahnya.

Kami terduduk di sebuah batu besar berlumut, memandangi hamparan kebun sawit. Kolase warna coklat tanah dan hijaunya dedaunan menambah apik renda alam yang tergerai. Sejuknya udara khas pegunungan, membuat kami sesaat terlupa bagaimana panasnya daerah khatulistiwa. Dan dari awal pendakian, saya rasa mendengar suara monyet yang entah bersembunyi di mana. Kata salah satu teman, di daerah sini memang masih terdapat populasi monyet. Bahkan masyarakat sekitar menjadikannya salah satu santapan.

Perjalanan menuruni Bukit Kelam, tak memakan waktu lama. Total perjalanan kami 2,5 jam. Itu sudah termasuk waktu untuk berjuta kali pose. Namun, dengan perjalanan yang sangat singkat itu, kami tak bis amencapai Pos 1. Di Bukit Kelam ini, terdapat dua pos. Dibutuhkan waktu sekitar 4,5 jam bagi pendaki untuk mencapai puncak.

Sesampainya di tempat parkir, ternyata terdapat relief yang menceritakan legenda Bukit Kelam. Relief ini berwarna, tak seperti relief pada umumnya yang berwarna hitam batu. Sehingga memudahkan wisatawan untuk menerbangkan imajinasinya menyelami relief-relief yang terpahat apik sepanjang pagar.

Tersebutlah seorang pemuda serakah bernama Bujang Besji yang ingin sekali menutup aliran Sungai Kapuas. Keinginannya diperkuat lantaran banyak ikan yang ingin ia tangkap. Lalu pemuda ini mengangkat batu untuk membendung aliran sungai, namun dari khayangan para bidadari tertawa sambil mengejek niat jahatnya.

Mendengar ejekan-ejekan itu, Bujang Besji tak bisa fokus dengan langkah kakinya akhirnya dia menginjak duri dan mengakibatkan batu tersebut lepas dari genggamannnya. Bongkahan batu pun berhampuran, potongan yang terbesar menjadi Bukit Kelam yang berdiri kokoh hingga sekarang.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here