Wisata Tragedi Batu Sumong

0
243 views

Kemanakita.id – Adapun lokasi batu Sumong berada di wilayah desa Sidoleren, kecamatan Gebang, kabupaten Purworejo. Bongkahannya tegak menjulang dengan ukuran tinggi sekitar 25 m, keliling 110 m dan luas 700 m² .

Pada 17 Agustus 2016 lalu batu Sumong beserta curug Sidoasri yang antar keduanya berjarak 50 meter ini resmi ditetapkan sebagai obyek wisata oleh jajaran Muspika Gebang.

Semua tak lepas dari prakarsa Danramil Gebang, Kapten Infanteri Sunarno demi mengangkat nama desa Sidoleren pada khususnya dan kecamatan Gebang padaumumnya.

Batu Sumong sangat cocok untuk dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi pendakian. Terlebih lagi di atas batu Sumong telah berdiri sebuah gazebo sederhana. Di gazebo itu pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Purworejo dari ketinggian sambil berselfie ria atau sekedar duduk-duduk rileks saja.

Suparman selaku perangkat desa Sidoleren menjelaskan bahwa daya tarik yang hendak ditonjolkan dari wisata batu Sumong adalah memang kisah tragis yang dialami keluarga Sumorejo.

Lebih jauh dia menuturkan. Setelah peristiwa bayi bungsu keluarga Sumorejo yang digondol oleh kadal panjang alias ular naga, ternyata misteri terus berlanjut. Setiap malam selasa kliwon selalu terdengar bunyi gamelan unik nan aneh dari batu Sumong.

Bunyi gamelan itu tentu menimbulkan kengerian tersendiri bagi warga desa yang tinggal di sekitar lokasi batu Sumong. Pada akhirnya Ki Sumorejo dan Nyi Sumorejo kembali mendapat petunjuk gaib. Petunjuk gaib yang mengisyaratkan supaya warga setempat rutin menggelar acara merti desa tiap tahun sekali pada bulan Sapar.

Semenjak warga Sidoleren rutin melaksanakan merti desa hingga kini suara gamelan misterius dari batu Sumong tak pernah terdengar lagi. Rangkaian acara merti desa sendiri dimulai dengan kegiatan membersihkan seluruh kompleks makam yang ada di desa Sidoleren. Kemudian kegiatan pengajian, tahlilan dan berakhir pada kegiatan puncaknya, yaitu pertunjukan seni tayub.

Baca Juga  5 Wisata Banyuwangi Yang Wajib Kamu Kunjungi

Sayangnya goa di bawah batu Sumong sudah ditutup rapat-rapat dengan tanah. Tentu ini sedikit mengurangi pesona batu Sumong. Namun, penutupan goa yang berlangsung pada tahun 1946-an itu bisa dimaklum karena alasan keamanan.

Meski tak pernah terjadi insiden memilukan seperti yang menimpa bayi keluarga Sumorejo, tetapi banyak sekali insiden hilangnya ternak peliharan warga sebelum lobang goa tersebut ditutup.

Pada beberapa bagian goa yang tertutup juga masih tampak bekas-bekas pembakaran api. ”Pembakaran dilakukan maksudnya untuk mencegah agar ular naga tidak keluar lagi dari goa dan menimbulkan kekacauan”, imbuh Suparman.

Wisata batu Sumong saat ini sudah cukup ramai pengunjungnya. Pada hari libur ketika cuaca sedang cerah jumlah pengunjung wisata batu Sumong bisa mencapai 100 orang lebih. Tetapi memang infrastruktur masih menjadi kendala.

Jalan utama menuju lokasi batu Sumong adalah jalan tanah yang selain curam juga becek ketika turun hujan, sehingga rawan bagi keselamatan pengunjung. Oleh sebab itu, pemerintah desa Sidoleren tengah mewacanakan untuk mengalokasikan sebagian dana desa guna pembangunan wisata batu Sumong maupun curug Sidoasri lebih baik lagi.

Support dari Pemkab dan berbagai pihak lainnya tentu sangat diharapkan. Jika pengelolaan obyek wisata ini bisa maksimal, sehingga menarik kunjungan banyak wisatawan, niscaya akan meningkatkan laju perekononomian masyarakat di sekitarnya.(Sri)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here